Definisi
Temper tantrum (atau yang sering disebut dengan tantrum saja) adalah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol, atau energi kemarahan anak yang dikeluarkan dengan sangat berlebihan/sangat hebat untuk mencapai tujuannya. Manifestasi tantrum ini beragam, mulai dari (hanya) merengek dan menangis saja, menjerit-jerit, mengguling-gulingkan badan di lantai, menendang, memukul, mencakar, bahkan ada yang sampai beraksi menahan nafas. Tantrum sering muncul pada anak usia 1 hingga 3 tahun, meskipun tidak selalu berarti perilaku ini akan menghilang dengan sendirinya setelah anak mencapai usia 3 tahun. Biasanya, tantrum ini berlangsung selama 30 detik sampai 2 menit dan intensitas tertinggi terjadi pada 30 detik pertama.
Cirri dan kebiasaan sikap tantrum
· Menangis berlebihan.
· Berteriak/menjerit dengan keras.
· Memukul, mencubit dan melempar.
· Berguling-guling.
· Membenturkan kepala/tubuh.
· Tubuh menjadi kaku
· Diam tak beranjak di suatu tempat.
Penyebab
Sikap tantrum terbentuk dari secara kondisional:
- Sikap orang tua yang tidak konsisten dalam penerapan disipiln anak-anaknya
- Sikap orang tua yang cenderung hanya mengkritik tanpa memberikan solusi
- Anak yang terlalu lama mengalami sakit
- Anak terhalang keinginannya mendapatkan sesuatu.
- Ketidakmampuan anak mengungkapkan keinginan karena keterbatasan bahasa.
- Kebutuhan yang tak terpenuhi. Misalnya, anak yang aktif akan tidak nyaman dalam perjalanan jauh dengan mobil.
- Pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan anak dan orang tua yang mengasuh secara tidak konsisten.
- Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.
- Anak sedang stres (akibat tugas sekolah) dan karena merasa tidak aman.
- Terhalang keinginannya untuk mandiri.
- Tak mampu menguasai/melakukan suatu hal.
- Mencari perhatian.
- Suasana hatinya sedang buruk
Mengapa anak tantrum
Sesungguhnya tantrum adalah bagian dari perkembangan anak. Ini memang suatu fase normal yang dilalui oleh semua anak. Bahkan anak-anak yang ‘paling baik’ sekalipun, sekali waktu juga pernah tantrum. Menurut pakar psikologi anak, tempramen anak juga mempengaruhi kecenderungan tantrum. Anak yang bertempramen ‘sulit’ cenderung mudah tantrum.
Sesekali, sebagai orangtua, Anda perlu juga memandang ’dunia’ ini dari sudut pandang anak. Seiring dengan pertambahan umurnya, anak semakin memahami lingkungannya. Mereka tahu bahwa ada banyak sekali pilihan di sekelilingnya. Di mata anak, semuanya menarik sehingga mereka ingin memiliki atau menguasai semuanya. Tak seperti orang dewasa, anak-anak (batita dan balita) memiliki keterbatasan dalam mengendalikan maupun menyalurkan emosinya. Maka, ketika keinginannya tak terpenuhi, mereka menyalurkan rasa frustasinya lewat satu-satunya cara yang ia kuasai benar.
Solusi
· Bersikap konsisten namun tetap penuh kasih saying.
· Jangan batasi kebebasan terhadap anak dengan berlebihan.
· Jangan menuntut secra berlebihan kepada anak.
· Hindari pemberian tugas diluar kemampuan anak.
· Tidak bersikap sewenang-wenang terhadap anak.
· Buanglah sikap-sikap keras dan kaku dalam mengasuh dan mendidik anak.
· Tetap tenang, beri anak waktu menguasai dirinya sendiri.
· Jangan hiraukan anak hingga dia bisa lebih tenang.
· Lakukan apapun yang sedang anda lakukan selama masa tantrum berlangsung.
· Jangan memukul ataupun melakukan hukuman fisik apapun.
· Jangan menyerah pada tantrum anak. Begitu menyerah mereka akan belajar mempergunakan perilaku tak pada tempatnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
· Jangan menyuap anak dengan hadiah untuk menghentikan tantrum. Anak-anak akan belajar bertindak tak semestinya untuk mendapatkannya.
· Singkirkan barang-barang yang berpotensi bahaya dari jangkauan anak-anak.
sikap orang tua
· Bersikap tenang.
· Berikan waktu anak untuk meluapkan sikap itu.
· Cari penyebabnya.
· Berbicara dan bertanya dengan lembut.
· Tidak perlu berdebat.
· Alihkan perhatian anak ke hal lainnya.
· Jagalah anak dari kemungkinan celaka/bahaya.
· Hindari menggunakan hukuman fisik.
· Jangan pernah menyerah.
TEMUAN PENTING
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tantrum terjadi sekurangnya sekali seminggu pada 50-80 persen anak pra sekolah. Ini menunjukkan tantrum normal terjadi. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa 5 hingga 20 persen anak-anak mengalami tantrum cukup parah yang menuntut kepedulian orang tuanya. Penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama tantrum pada anak adalah konflik mereka pada orang tua, yang paling umum mengenai :
- Konflik mengenai makanan dan makan (16,7%).
- Konflik karena meletakkan anak di kereta dorong, kursi tinggi untuk bayi, tempat duduk di mobil, dan sebagainya (11,6%).
- Konflik mengenai pemakaian baju (10,8%)
Biasanya tantrum memiliki tahapan berbeda dengan tanda peringatan, seperti menuntut perhatian atau “mencari masalah”. Hal tersebut sering diakhiri dengan tangisan sedih dan kemauan untuk di bujuk. Peneliti-peneliti mengungkapkan bahwa tantrum yang parah berlangsung lebih dari 15 menit dan terjadi tiga kali atau lebih dalam sehari.
Berdasarkan informasi ini dapat dikatakan 6,8 persen dari 502 sampel anak mengalami tantrum yang parah. Lebih dari setengah sampel dengan tantrum parah ini mengalami masalah tingkah laku. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan tantrum adalah gangguan tidur, masalah berbicara, sakit yang parah, stress maternal dan depresi, serta tekanan dalam penanaman disiplin. Tantrum diduga lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dan dalam rumah tangga yang relative kurang nyaman, tetapi hal ini belum terbukti secara jelas. Sebuah survey menemukan bahwa 35persen tantrum di akhiri dengan dekapan, dan si anaklah yang sering memulai gerakan pertama untuk mendekati orang tua. Penelitian lain mengungkapkan bahwa tindakan yang menimbulkan rasa nyaman seperti menghisap ibu jari atau menggunakan mainan yang lembut meningkat setelah tantrum berlangsung. Tingkah laku tantrum amarah lebih buruk pada awalnya dan kemudian mereda.Saat tantrum menekan, tingkah laku buruk cenderung meningkat. Anak yang pemarah sering tumbuh menjadi orang dewasa yang pemarah pula, terutama pada situasi yang melibatkan konflik interpersonal dan menuntut perundingan, seperti dalam pernikahan dan saat menjadi orang tua.




0 komentar:
Posting Komentar